Rumah Sakit Muji Rahayu-Surabaya-Diskusi
Login|[SubSribe]

HARUSKAH ANAK RANKING 1?

  

"Jeng, si Rudi ranking berapa di kelasnya?" tanya bu Dwi pada bu Farida, ibunda si Rudi.

Bu Farida hanya tersipu malu karena si Rudi hanya ranking sepuluh di kelasnya.

"Ayo Bu, si Heri ikutkan Kumon, biar matematikanya hebat," ajak Bu Nurma ke Bu Lativa.

Obrolan tersebut jamak kita temui di sekitar kita. Seorang ibu akan menargetkan anaknya menjadi juara kelas dan membanggakan. Juga, seringkali kita jumpai ibu-ibu kebingungan anaknya tidak pandai matematika. Pertanyaannya, benarkah ranking 1 di kelas dan pandai matematika merupakan ukuran kehebatan/kecerdasan seorang anak?

Menurut Dr. Howard Gardner, cerdas adalah kemampuan untuk menyelesaikan masalah dan menghasilkan persoalan-persoalan baru untuk diselesaikan. Jadi, apa artinya ranking 1 (yang memang teknik penentuannya berdasarkan jumlah nilai rapor terbesar) di kelas atau hebat matematika, kalau dalam kesehariannya si anak kelihatan culun, takut dengan orang lain, dan hanya bisa menangis kalau nggak bisa melakukan sesuatu? Betapa banyak kita lihat, orang yang "gagal" dalam hidupnya, padahal saat kecilnya dulu selalu ranking 1 dan matematikanya hebat. Sebaliknya, betapa banyak orang sukses yang waktu sekolahnya dulu selalu menempati ranking bawah. Pandai matematika hanyalah sebagian kecil kecerdasan yang harus dimiliki seorang anak. Literatur-literatur terbaru menyebutkan, ada 9 kecerdasaan yang sebisa mungkin dimiliki anak, ialah: Logika-Matematika, Kinestetik, Natural, Linguistik, Spasial, Musik, Intrapersonal, Inrterpersonal, dan Spiritual.

Pandai matematika hanya se per sekian persen dari seluruh kecerdasan anak. Orang sesukses Michael Jordan belum tentu pinter matematika. Selama ini kita banyak terfokus pada otak kiri yang memang "ngurusi" masalah logika, tumemory. Sementara, otak kanan banyak kita "istirahatkan", padahal berperan besar dalam proses imajinasi, emosi, kreativitas, musik, warna, dan long term memory.

Pertanyaannya berikutnya, mungkinkah kita bisa optimalkan semua jenis kecerdasan itu?" Jawabannya adalah mustahil. Oleh karena, ke-mustahilannya itulah, maka jangan pernah memaksa anak kita ranking 1 atau hebat matematika, sementara sebenarnya anak kita lemah di bidang itu dan punya kelebihan di bidang lain.

Sembilan Kecerdasan

1.Logika - Matematika, kecerdasan yang terkait dengan angka dan hitung-menghitung serta nalar. Sebagaimana yang dimiliki Albert Einstein dan Thomas Alva Edison.

2.Kinestetik, kecerdasan yang terkait dengan gerak tubuh dan aktivitas fisik, lebih mudah mengingat sesuatu dengan melakukan gerakan daripada melihat atau mendengar. Contoh: Bejo Sugiantoro, Muhammad Ali.

3.Natural, kecerdasan yang terkait dengan alam dan mempunyai perhatian lebih kepada lingkungan hidup. Contoh: Harun Yahya.

4.Linguistik, kecerdasan yang terkait dengan bahasa dan cerita, mudah mengungkapkan perasaan dengan kata-kata, lisan maupun tulisan. Contoh: WS Rendra, Winston Churchill.

5.Spasial, kecerdasan yang terkait dengan gambaran suatu ruang, mudah menggambarkan ruangan dalam sudut pandang yang berbeda-beda dan menyukai seni rupa. Contoh: Affandi, Pablo Picasso.

6.Musik, kecerdasan yang terkait dengan nada, irama, dan bunyi-bunyian, mudah memainkan alat musik dan pandai bernyanyi. Contoh: Beethoven.

7.Intrapersonal, kecerdasan yang terkait dengan sensitifitas diri sendiri, senang menikmati kesendirian dan menghasilkan sesuatu yang lebih hebat bila sesuatu dikerjakan sendiri. Contoh: Sigmund Freud.

8.Interpersonal, kecerdasan yang terkait dengan sosialisasi, pandai berkomunikasi bahkan memanipulasi. Contoh: Ayatullah Khomeini.

9.Spiritual, kecerdasan yang terkait dengan akhlak dan perilaku keagamaan. Contoh: Amin Rais, Din Syamsuddin, Gus Dur

Di antara ke-9 kecerdasan yang ada, yang paling penting adalah kecerdasan spiritual. Tanpa kecerdasan spiritual, ke-8 kecerdasan yang lain akan menjadi bumerang bagi hidup dan kehidupan. Sebagai orangtua, kadang kita lupa mendidik anak untuk cerdas spiritual dan lebih memikirkan cerdas yang lain. Tugas sebagai orangtua adalah melihat kelebihan anak di "kecerdasan yang mana" untuk kemudian dioptimalkan sebaik mungkin. Fenomena paling up to date adalah Tukul Arwana dengan "kembali ke laptop"-nya. Siapa yang menyangsikan, saat ini kehidupan Tukul dibilang sukses? Apakah waktu sekolah Tukul dulu ranking 1? Apakah Tukul dulu pinter matematika? Banyak orang bilang kelebihan Tukul terletak pada "kekurangan"-nya. Banyak orang nggak paham, Tukul punya kecerdasan Linguistik dan Interpersonal yang baru terbaca tim kreatif empat mata, yang kemudian mampu mengemasnya menjadi sesuatu yang layak jual.

 

    .:Komentar:.

Ubet Pramarsa "Haloo bapak pengasuh rubrik kesehatan ini, bagaimakah kalau ternyata saya tidak punya ke sembilan kecerdasan di atas...? , potensi apakah dalam diri saya yang bisa digalih. terima kasih dan salam 2011-05-24 14:46:18
 
Pengasuh Mas Ubet, smua orang pasti punya salah satu dr 9 kecerdasan itu. naah, 'tugas' kita adalah mencari, yg mana yg kita miliki. 2011-06-21 11:38:13
 
 
 
 

.:Kirim Komentar:.