Rumah Sakit Muji Rahayu-Surabaya-Diskusi
Login|[SubSribe]

Mewaspadai Mewabahnya E.Coli

  

Akhir-akhir ini ramai dibicarakan tentang bakteri E. Coli yang mencemari kecambah di Eropa serta menewaskan banyak orang dan sakit parah. Sebenarnya E. Coli itu apa, bagaimana gejala sakitnya? Bagaimana juga cara mencegah serta pengobatannya?

Escherichia Coli pertama kali diidentifikasikan oleh dokter hewan Jerman, Theodor Escherich, beliau menggambarkan organisme ini sebagai komunitas bakteri coli dengan membangun segala perlengkapan patogenitasnya di infeksi saluran pencernaan. Bakteri ini termasuk ke dalam family Enterobacteriaceae. Bakteri ini akan tumbuh dengan baik pada suhu optimal 37° C pada media yang mengandung 1% peptone sebagai sumber karbon dan nitrogen. E. Coli dapat bertahan hingga suhu 60 ° C selama 15 menit atau pada 55 ° C selama 60 menit. Masa inkubasi berkisar antara 3 - 8 hari, rata-rata 4 hari. Pemerintah Jerman melalui Reinhard, Direktur Robert Koch Institute, memastikan kecambah sebagai penyebab wabah bakteri E. Coli yang telah merenggut korban jiwa sedikitnya 30 orang dengan 3.000 jatuh sakit di Eropa.

Penyakit infeksi ini disebabkan oleh bakteri E. Coli, yaitu:

1. Escherichia coli enteropatogenik (EPEC).

Escherichia coli tipe enteropatogenik melekat pada mukosa usus dan mengubah kapasitas absorbs (penyerapan) usus, sehingga menyebabkan muntah, diare, nyeri abdomen (perut) serta demam.

2. Escherichia coli enterotoksigenik (ETEC)

Efeknya pada kesehatan diperantarai oleh enterotoksin (racun). Gejalanya meliputi diare (yang berkisar dari diare ringan sampai sindrom mirip-kolera dengan diare yang banyak tanpa darah atau mukus), kram abdomen serta muntah, yang kadang-kadang menimbulkan dehidrasi dan syok.

3. Escherichia coli enteroinvasif (EIEC).

Kelainan inflamasi pada mukosa dan submukosa usus yang disebabkan oleh invasi dan multiplikasi EIEC dalam sel epitel usus besar. Gejalanya meliputi demam, nyeri abdomen yang hebat, muntah dan diare cair (pada <10% kasus, tinjanya mungkin mengandung darah dan mengandung mukus).

4. Escherichia coli enterohemoragik (EHEC).

Kram abdomen, diare cair yang dapat berubah menjadi diare berdarah (kolitis hemoragik). Demam dan muntah juga dapat terjadi.

Infeksi akibat bakteri EPEC, ETEC dan EIEC merupakan faktor yang utama malnutrisi pada bayi dan anak-anak di negara berkembang, termasuk Indonesia. Infeksi EHEC dapat menimbulkan komplikasi yang menyebabkan kematian seperti Haemolytic Uraemic Syndrome (HUS) pada sekitar 10% penderita, khususnya pasien anak dan lanjut usia dan angka kematiannya berkisar 3-5%. HUS ditandai dengan Gagal Ginjal Akut, Anemia Hemolitik dan Trombositopenia.

Cara penularan

a. Infeksi oleh bakteri EPEC, ETEC, EIEC

Konsumsi makanan dan air minum yang terkontaminasi tinja yang mengandung E. Coli. 25% infeksi pada bayi dan anak kecil di negara berkembang disebabkan oleh ETEC serta EPEC.

b. Infeksi EHEC

Terutama ditularkan melalui konsumsi makanan seperti produk daging giling mentah atau kerang matang dan susu mentah dari hewan yang terinfeksi. Kontaminasi tinja pada air dan makanan lain di samping kontaminasi-silang selama penyiapan makanan juga menimbulkan infeksi ini.

Penularan sekunder (antar manusia) juga dapat terjadi selama periode ekskresi yang berlangsung kurang dari satu minggu pada orang dewasa tetapi bisa sampai tiga minggu pada sepertiga dari anak-anak yang terinfeksi.

World Health Organization (WHO), menganjurkan 5 kunci untuk kemanan pangan:

1. Menjaga kebersihan

2. Memisahkan bahan mentah dan makanan matang

3. Memasak makanan sampai matang

4. Menjaga makanan pada suhu aman

5. Menggunakan air bersih untuk mencuci bahan pangan

Selain itu, mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan setelah Buang Air Besar (BAB)

Menteri Kesehatan, Endang Rahayu Sedyaningsih, memastikan di Indonesia belum ditemukan adanya bakteri E. Coli strain baru, dengan nama enterohaemorrhagic E. Coli (EHEC) yang bisa menimbulkan penyakit berbahaya dan mematikan. "Di Indonesia belum ada kasus ini, dan tidak ditemukan adanya E-Coli strain baru, tapi kita harus tetap waspada karena penyakit akibat bakteri itu resisten terhadap antibiotik dan obat-obatan biasa," ujarnya.

 

    .:Komentar:.

Yulies_D Waduh..., jadi takut makan touge ni..., Boleh tanya nie pak dokter pengasuh. Bakteri apapun kan harusnya mati setelah dimasak dengan suhu masak 100 derajat celsius. Jadi harusnya aman kan ? memakan toge atau timun atau tomat setelah dimasak mendidih. Terima kasih atas jawabannya. 2011-07-05 13:59:31
 
Pengasuh mas Yulies benar, seharusnya E.Coli mati bila diperlakukan spt itu. yg jadi permasalahan adalah, kita tdk melakukannya, sehingga E.Coli msh tetap hidup pd sayuran yg kita makan. di sisi lain, taoge, kalo' dimasak dgn suhu diatas 100 derajat, kekerasan taoge (yg memang dicari pecinta taoge) akan menghilang. Oleh krn itulah, kita jarang memasak taoge dgn suhu diatas 100 derajat. Demikian jawaban kami, smg bermanfaat. 2011-07-11 19:03:51
 
angga risky loo dok klo toge tw tomat dimasak 100 derajat bukan x nyunyut ya???trs klo sayur di rebus terlalau lama apa ga vit.x hilang?????trs qta ga makan vitamin dunk makan ampas doank??? 2011-07-13 15:36:22
 
Pengasuh ya itulah Mbak, kalo pingin enak saat dimakan, gak bisa dimasak spt itu. smentara utk menghilangkan resiko E.Coli ato kuman lain, ya..harus dimasak spt itu. so, pilihan ada 2, pingin sehat ato pingin gak nyunyut? he 3x... 2011-07-16 10:02:20
 
rs_mujirahayu@yahoo.com oke 2014-08-07 13:26:51
 
gMUug2SCX Zune and iPod: Most people compare the Zune to the Touch, but after seeing how slim and surnsiripgly small and light it is, I consider it to be a rather unique hybrid that combines qualities of both the Touch and the Nano. It’s very colorful and lovely OLED screen is slightly smaller than the touch screen, but the player itself feels quite a bit smaller and lighter. It weighs about 2/3 as much, and is noticeably smaller in width and height, while being just a hair thicker. 2016-07-20 22:39:04
 
 
 
 

.:Kirim Komentar:.